Tuesday, January 4, 2022

The Purpose of Life

     (Nice homework)

    1. Apakah sampai hari ini Anda tetap memilih bidang pekerjaan yang saat ini dilakukan? Ataukah setelah merenung beberapa waktu, kemudian ingin mengubah bidang pekerjaan/ karir/ profesi yang akan dikuasai?

Hotelier. Ya, masih tetap menjadi hotelier. Sebenarnya bukan sesuatu yang saya impikan menjadi hotelier. Awalnya, alasan saya mengambil jurusan Manajemen Perhotelan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena saya bingung, akan pilihan penjurusan IPA atau IPS saat saya akan memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), masa dimana masa depan akan dimulai. Dimana saya tidak menyukai pelajaran sejarah, ataupun ilmu pengetahuan alam. Terdengar seperti ingin lari dari pilihan yang ada, tapi tidak bisa berhenti karena ini menentukan masa depan saya.

Menyesal?

Tidak sama sekali. Saya malah merasa beruntung, dengan pilihan random saya untuk masuk sekolah perhotelan, saya mempelajari ilmu yang sangat berbeda dari apa yang saya pelajari sedari bangku Sekolah Dasar (SD). Belajar keramahtamahan, pelayanan. Bahkan setelah lulus SMK saya bisa langsung bekerja. Ya, karena sedari dulu saya memang mau langsung bekerja, dan kuliah seiring berjalan waktu menggunakan uang saya sendiri dan itupun terwujud, walau harus makan waktu lama untuk menyadari bahwa saya perlu kuliah. Seperti ada beberapa orang mengatakan, “kelamaan nyaman cari uang jadi lupa melanjutkan pendidikan” ya itu yang sempat terjadi pada saya. Tapi memang tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Tidak jauh dan tidak bukan “Tetap Perhotelan”

Sebelum memutuskan kuliah sambil bekerja, saya berpikir panjang, seberapa lelah kuliah yang dijalani sambil bekerja, apakah saya bisa menyelesaikan kuliah sampai mendapat gelar sarjana? Then honestly, cari aman, saya cari jurusan tidak jauh dari bidang pekerjaan yaitu “Manajemen Perhotelan”. True. Apa yang dipelajari di bangku kuliah adalah apa yang saya terapkan di lingkungan kerja sehari-hari.

Jika saya ambil jurusan lain, mungkin akan jauh berbeda apa yang saya pelajari dengan kehidupan sehari-hari saya. Dan jika dijalani kuliah sambil bekerja pasti otak saya lebih harus bekerja keras untuk mempelajari materi yang ada. Walau begitu, tetap banyak pelajaran baru yang saya terima selama kuliah.

Berpaling dari dunia “Hotelier”

Rasa bosan pasti ada. Tapi dunia perhotelan luas, bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang jauh berbeda yang membuat pekerjaan lebih terasa bervariasi. Sempat ingin kerja kantoran supaya bisa libur sabtu-minggu dan tanggal merah, tapi bukan alasan yang kuat, karena saya bukan tipe orang yang suka diam di depan komputer dengan pekerjaan yang monoton. Pilihan saya, jika bisa keluar dari dunia perhotelan, bisa menjadi wirausaha. Mengelola usaha milik sendiri, tidak diatur orang lain, dan bisa lebih mengapresiasikan diri terhadap usaha milik sendiri.

2. Apakah sudah memahami apa tujuan Tuhan menciptakan kita ke muka bumi? Kemudian susunlah Visi hidup (life purpose), bidang ilmu/ pekerjaan yang diminati, dan peran yang ingin dikuasai?

Apapun yang terjadi dalam hidup ini, saya yakin semua adalah campur tangan Tuhan. Semua adalah rencana Tuhan. Walau kadang saya merasa salah menentukan pilihan atau gagal, tapi pasti ada jalan keluar dan opsi lain yang terjadi nantinya.

Ilustrasi nyatanya, sempat, akhir tahun 2019 lalu, saya berencana resign dari hotel tempat saya bekerja sekarang. Hanya karena alasan sepele “sudah terlalu lama, bosan, ingin cari suasana baru”. Setelah mencoba interview di beberapa perusahaan, saya tidak memberikan dedikasi tinggi untuk bisa bekerja di perusahaan yang baru akan saya tuju, entah kenapa, banyak pertimbangan. Sampai sempat nekat mau resign padahal belum ada perusahaan baru yang akan saya tuju. Hanya karena alasan, bosan, perlu liburan. Ya, itu alasan jujur yang saya ungkapkan pada atasan saya saat itu. Seketika surat resign saya dirobek karena saya tidak diijinkan untuk keluar dengan alasan seperti itu. Tidak lama sekitar awal tahun 2020 muncullah pandemi Covid 19, yang membuat banyak perusahaan tutup, perekonomian berjalan sangat kacau.

GOD is just too GOOD!!

Saya merasa orang yang diselamatkan. Penuh rasa syukur, merasa yang tadinya hidup terasa sulit karena tidak bisa mendapat tempat kerja yang baru, ditolak resign, bertanya-tanya apa sebenarnya yang Tuhan mau atas diri saya. Thank God for letting me stay! Perusahaan saya bisa bertahan di tengah pandemi, tanpa tutup dan melakukan pemotongan gaji karyawannya. Tidak bisa membayangkan jika saya keluar dari tempat kerja, apakah saya akan mendapat perusahaan lebih baik, dan bisa bertahan seperti perusahaan saya?

Saya memang tidak pernah tau apa yang Tuhan rencakanan. Terkadang manusia lebih banyak mengeluh, dan hanya sadar saat dirinya beruntung. Ya itu juga sering terjadi pada diri saya. Tapi kini saya belajar, harus punya rasa percaya penuh, bahwa apapun yang terjadi pada setiap manusia, merupakan bagian dari rencana Tuhan. Baik ataupun yang kita rasa tidak baik, namun Tuhan menyiapkan yang terbaik.

Optimis

Optimis bukan narsis. Lewat apa yang boleh diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup saya, saya optimis mampu jadi pribadi yang lebih baik, karena saya orang yang mau belajar dan mengamati. Jadi saya memiliki tujuan hidup saya kedepan:

-          Visi : “Menjadi orang yang berguna dan berpengaruh yang berkepribadian sederhana, bijaksana dan mampu menghargai orang lain sehingga juga bisa dihargai”

-          Bidang : hidup rumahtangga, keorganisasian, kepemimpinan

-          Peran : good wife, good leader 

3. Ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut?

Untuk memenuhi misi dengan berkepribadian tersebut sehingga dapat diterapkan guna menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi orang-orang di lingkungan sekitar, maka ilmu yang saya perlu terapkan yaitu:

-          Hidup berumahtangga : kebiasaan selalu bersyukur, menghormati suami dan anggota keluarga, menjaga rasa kepercayaan dan kerukunan dengan seluruh anggota keluarga.

-          Keorganisasian : berperan aktif dalam kegiatan, sosialiasi, menghargai pendapat, dan belajar bekerja dalam kelompok.

-          Kepemimpinan : cara menjadi pemimpin yang mempengaruhi bukan hanya memerintah, menghormati dan menghargai keputusan orang lain.

4. Tetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan dalam menjalankan misi hidup Anda!

Dalam meraih tujuan hidup, tidak selalu berjalan mulus, atau berjalan sesuai rencana. Namun, dalam meraih tujuan pastinya kita memiliki rangkaian pijakan yang harus diambil, agar tujuan bisa tercapai. Mimpi tidak selalu terwujud, tapi kita harus memiliki mimpi.


Bagan di atas merupakan bagan yang menggambarkan target pencapaian yang saya jalankan. Berawal dari kelulusan saya dari Sekolah Mengengah Kejuruan di tahun 2015 dan memilih untuk memulai karir pertama. 
Tahun 2021 saya menikah dan mulai menerapkan untuk menjadi pribadi yang baik dalam hidup berkeluarga.
Tahun 2022 saya memiliki target untuk lulus kuliah dan mendapat gelar sarjana. Setelah itu mencari kesempatan baru di perusahaan lain untuk mengembangkan karir saya dengan tujuan bisa mendapat kesempatan untuk mengambil posisi di tahap manajerial pada kurun waktu 5 tahun. Pada kurun waktu tersebut, saya diharapkan mampu mempelajari kiat-kiat menjadi seorang pemimpin.
Tahun 2027 sudah bisa memimpin suatu organisasi pada bagian departemen kantor depan si sebuah hotel berbintang.
Menjadi seorang pemimpin akan membekali saya dalam memimpin suatu usaha yang akan saya bangun nantinya.


 


Thursday, October 21, 2021

“BERKECUKUPAN UNTUK BERBAGI” HOW TO GET REACH IT?

 


 


Masa pandemi Covid 19 yang sudah berjalan lebih dari 1 tahun ini membuat saya prihatin terhadap dunia. Memang tidak ada yang dapat menduga apa yang akan terjadi kelak. Tidak menyangka efek pandemi yang luar biasa mengubah banyak hal. Perekonomian, lingkungan, kemanusian. Kesulitan ekonomi yang dialami tidak hanya dari kalangan bawah, bahkan yang dari kalangan atas pun bisa rugi serugi-ruginya. Di tengah duka yang dirasa, seketika banyak orang yang turut prihatin berlomba-lomba saling membantu turun ke jalan untuk saling menguatkan dan mengerahkan tenaga untuk menyisihkan bantuan.

Melihat keadaan itu rasanya senang bisa menjadi kebahagiaan juga bagi orang lain. Tapi terkadang dengan mirisnya pribadi ini nyeletuk “coba aja uangnya sebanyak mereka, pasti bisa berbagi juga”.  Padahal berbagi nggak harus nunggu banyak uang dulu. Walau efek pandemi juga saya rasakan, saya berusaha untuk bisa turun membantu juga mereka yang lebih membutuhkan, karena masih banyak kondisi lebih nggak baik diluar sana.

Tapi nggak salah kalau mimpi mau hidup berkecukupan lebih kan? Maunya supaya bisa lebih royal berbagi tanpa harus takut kita juga akan kekurangan, padahal dengan berbagi nggak akan bikin kita kurang, malah akan selalu ada gantinya.

PENTINGNYA HIDUP BERKECUKUPAN?

Kalau lihat media sosial belakangan ini harus punya batin kuat. Banyak drama, orang berlomba-lomba pamer harta benda, penghasilan, dll. Kalau punya mental lemah pasti mikirnya sudah putus asa dan minder terus. Nggak bisa selalu dibilang sombong, mungkin itu cara masing-masing orang menghargai kerja keras mereka. Tapi yang lebih inspiratif, mereka yang diluar sana bisa memberikan bantuan dari rejeki yang mereka miliki untuk orang lain yang membutuhkan. Memang berbagi gak seharusnya selalu dilihat orang, tapi niatnya mungkin memberi inpirasi juga untuk orang lainnya ikut bisa membantu satu sama lain. Terkadang mengandai-andai punya rejeki lebih juga pengen banget, supaya bisa ikut berbagi. Padahal berbagi nggak harus punya uang banyak dulu. Ya tapi dimulai berbagi dalam skala kecil dulu. Rasanya habis berbagi tuh hidup kayak tenang dan ikut seneng. Jadi berkecukupan bukan berarti jadi sultan, dan nggak cuma memuaskan kepentingan pribadi, tapi bisa berguna juga untuk orang lain.

KALAU UDAH BERKECUKUPAN, MANFAATNYA BUAT SIAPA?

Balik lagi, kalau dikasih rejeki sama Tuhan, apa yang kita lakuin? Namanya kalau habis dikasih kan berarti ada terima kasih. Terima ya berarti men
erima, lalu kasih ya berarti kita harus kasih lagi apa yang kita terima. Saya jadi berpikir, pantas mereka yang berkecukupan akan selalu sejahtera, karena apa yang mereka terima, mereka kasih lagi ke orang lain, makanya nggak berkesudahan rejekinya. Jadi, sebisa mungkin setiap rejeki yang kita terima, jangan takut untuk kasih lagi buat mereka yang juga butuh, rasa bahagianya jadi nggak dinikmati sendiri tapi buat banyak orang lain juga.

KALAU BELUM BERKECUKUPAN, KEKUATAN APA YANG BISA DIKERAHKAN? DAN BAGAIMANA UPAYA MEWUJUDKANNYA?

Dalam hidup ada yang namanya rejeki, ada yang namanya berkat. Yang selalu berbentuk materi itu namanya rejeki. Dan rejeki bisa datang dari mana aja dan siapa aja. Kayak ada pepatah “rejeki nggak kemana-mana”. Tapi kalau berkat, udah pasti datangnya dari Tuhan. Berkat nggak selalu dalam bentuk materi, tapi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, orang-orang yang support di sekeliling kita, dan masih banyak lagi. Contoh, selama pandemi berjalan, sampai saat ini Puji Tuhan saya diberi kekuatan dan kesehatan, itu namanya berkat. Bersyukur luar biasa dong. Jadi, walau efek pandemi ikut dirasakan juga, tapi masih harus inget, kita masih terima berkat. Jadi harus tetap bersyukur. Kalau masih punya rejeki walau sedikit, saya mau bisa menjadi berkat buat orang lain. Turut prihatin dan peduli dengan menyisihkan sedikit demi sedikit rejeki yang ada, karena berbagi nggak hanya dari kelimpahan. Dimulai dari yang sedikit lama-lama akan menjadi bukit. Dimulai dari mencoba, lama-lama menjadi terbiasa.

Wednesday, October 20, 2021

HUMAN DESIGN

Human design bisa dikatakan juga sebagai blue print dalam kehidupan manusia. Setiap individu memiliki mekanisme/cara kerja masing-masing dalam proses berinteraksi.

Human design dilihat dari informasi tempat, tanggal, dan jam lahir kita secara spesifik. Ketika lahir ke dunia, kita terekspose oleh medan energy yang ada di sekitar kita, medan energy yang mengaktifasi program sifat-sifat yang ada dalam diri kita, maka dari itu setiap orang memiliki sifat dan karakter berbeda karena lahir di tempat dan waktu yang berbeda.

Human design memiliki 64 kode genetik pada kepribadian manusia, namun tidak semuanya dimiliki oleh masing-masing orang. Human design menunjukkan informasi tentang profile/peran seseorang di tengah kehidupan, strategi di kehidupan, authority/cara pengambilan keputusan pada seseorang, tujuan/tema kehidupan, cara makan, dll. Maka dari itu, human design berguna agar kita mampu mempelajari diri sendiri, mengetahui titik kekurangan dan kelebihan, kemampuan/potensi yang dimiliki, mengetahui range/batasan yang kita miliki agar kita lebih mengenal diri lebih dalam. Dengan mengenal diri sendiri lebih dalam, human design mampu membantu memudahkan kita dalam pengambilan keputusan supaya sesuai dengan kepribadian yang kita miliki.

Chart yang ada pada human design :

Tipe diri :

-        - Manifestor

Populasi -+ 8%. Kepribadian ini mempunyai energi murni sebagai sosok yang ditugaskan untuk memulai sesuatu. Goals utama untuk mencapai kedamaian.

-         - Generator

Populasi -+35%. Kepribadian ini merupakan sosok yang bekerja dan membangun. Memiliki energi yang banyak/besar untuk mensupport. Memfokuskan diri dalam pada satu bidang untuk hasil terbaik. Goals utama mencapai kepuasan dari apa yang dikerjakan.

-        - Manifesting generator

Populasi -+ 35% gabungan dari manifesting dan generator. Memiliki kepribadian hampir sama dengan generator, yang membedakan kepribadian ini tidak bisa monoton pada satu bidang, melainkan harus mengerjakan lebih dari satu bidang/bervariasi. Energinya banyak untuk melakukan hal yang disuka. Goals utama untuk mencapai kepuasan dari apa yang dikerjakan.

-         - Projector

Populasi -+21%. Kepribadian yang memimpin, mengarahkan, dan mengelola. Energi yang dikeluarkan bersifat atraktif/menarik sekitar untuk mencapai tujuan bersama. Goals mencapai kesuksesan, baik dalam bentuk sukses pada tujuan/materi, dll.

-         - Reflector

Populasi -+1%. Unsur kepribadiannya bersifat open. Merefleksikan setiap kondisi lingkungannya sehingga mereka menjadi cerminan pada situasi sekitarnya. Sakralnya bersifat open. Kepribadiannya untuk membaca lingkungan, bisa merasakan sensitivitas pada hal yang akan berpengaruh terhadap dirinya.

 

Refleksi terhadap Diri Sendiri

 


Saya adalah seorang generator. Seperti penjelasannya, seorang generator memiliki energi/kekuatan yang membangun. Menjadi sosok yang bekerja, lebih pada menghasilkan suatu yang nyata. Dalam pengambilan keputusan, saya suka mempertimbangkan orang lain, tapi juga mendengarkan secara mendalam kemauan yang muncul dari dalam diri saya sendiri. Tujuan utama yang dimiliki kepribadian saya adalah mencapai kepuasan. Sehingga yang saya lakukan harus sesuai dengan ekspektasi saya.

 

Mimpi dan Tujuan Kuliah

 

Saat lulus meniti ilmu pada sekolah menengah kejuruan, saya tidak berkeinginan untuk kuliah, karena merasa kuliah hanya untuk mendapat title, dan title bukanlah segalanya. Untuk mendapat ilmu saya bisa mengikuti kursus atau mempelajari di internet dan sumber lainnya. Namun seiring berjalannya waktu saya sadar, title menjadi kualifikasi sebagian besar perusahan dalam proses rekruitmennya. Setelah menyadari, karena biaya kuliah yang dikenal tidak kecil, saya bertekad harus membayar uang kuliah dengan uang saya sendiri, sehingga saya memilih untuk bekerja terlebih dahulu. Ada pepatah, tunda kuliah keasikan kerja. Iya, betul saya pernah merasakannya. Sampai suatu  saat saya memiliki pasangan yang memiliki gelar sarjana dan cukup pintar.  Ya, saya adalah orang yang tidak suka tersaingi. Saya merasa minder memiliki pasangan yang lebih pintar. Juga dipengaruhi faktor lingkungan yang pokok bahasannya tidak jauh dari bangku kuliah. Disitu diri saya termotivasi untuk mengambil tekad melanjutkan kuliah saya. Lagipula memang kuliah akhirnya penting. Karena kualifikasi perusahaan dalam rekruitmen pegawainya adalah title.

Tidak selamanya jabatan adalah hal yang dicari dari hasil kuliah dan memiliki title. Tidak hanya untuk title, ya saya kuliah memang tujuannya belajar. Apalagi kuliah sambil bekerja, dengan jurusan mata kuliah yang saya ambil sangat berhubungan dengan pekerjaan yang saya jalani. Banyak hasil pembelajaran di bangku kuliah yang saya terapkan juga di dunia kerja, dan sebaliknya. Banyak materi kuliah yang saya ketahui karena sudah saya jalani di seharian lingkungan kerja saya. Ada pepatah “tidak ada kata terlambat untuk belajar”.

Saya mulai lanjut kuliah di usia 23 tahun, maka dari itu saat ini berusaha untuk lulus tepat waktu bahkan dalam jangka waktu 3,5 tahun. Seperti hal biasa, tapi menurut saya merupakan kebanggaan kepada diri sendiri karena dijalankan sambil bekerja, bahkan berumahtangga. Di akhir semester 5 lalu saya memutuskan untuk menikah. Hal yang tidak terduga karena target saya tadinya mau menyelesaikan kuliah dulu, tapi dan rencana Tuhan ternyata berbeda.

Tujuan kuliah saya bukan karena orang lain. Orang-orang di sekitar saya hanyalah motivator. Tapi di balik itu, sebagai tuntutan kualifikasi perusahaan dalam menentukan pegawai, setelah lulus kuliah saya tidak selamanya bekerja untuk perusahaan orang, tapi saya ingin memiliki usaha sendiri. Dengan bekerja dan menghasilkan uang untuk ditabung, nantinya saya akan membangun suatu usaha. Usaha tidak harus perusahaan yang besar, seperti kata Bob Sadino “setinggi apapun pangkat yang anda miliki, tetap saja seorang pegawai. Sekecil apapun usaha yang anda miliki, maka anda adalah bosnya”.

Yang menjadi motivasi saya dalam menjalankan usaha, karena saya mau bekerja dengan lebih baik. Karena untuk usaha yang saya jalani sendiri tidak mungkin kerja dengan asal-asalan. Saya sering melihat orang yang bekerja asal menerima gaji saja, atau perilaku atasan yang tidak respect dengan bawahannya. Jika saya memiliki suatu usaha, saya berharap mampu menjadi orang yang bertanggungjawab, tidak hanya untuk keuntungan pribadi, namun menjadi berkat bagi setiap orang yang ada di sekitar saya.

Monday, October 18, 2021

Sosok Influence

Influence

https://tes.anthonykusuma.com/disc/influence 

Influence memiliki arti pengaruh, kesimpulannya influence berarti bisa mempengaruhi atau menjadi pengaruh bagi orang lain atau situasi tertentu. Setiap orang pastinya pernah merasa dirinya berpengaruh pada orang lain atau suatu keadaan. Bahkan situasi ini sering saya rasakan. Bukan karena mau sombong, tetapi ada kalanya dalam suatu kondisi, pastinya ada sosok yang menjadi panutan atau tumpuan suatu keadaan bisa terjadi. Jadi sosok “influence” membuat saya jadi orang yang harus berhati-hati dalam bicara dan bertindak, karena yaa bisa aja apa yang keluar dari diri saya jadi acuan orang lain. Walau ada pepatah, “yang baik yang diikutin, yang buruk jangan diikutin” – unkown.

Terkadang suka membanggakan diri karena bisa menjadi pribadi yang bisa diandalkan karena dapat dipercaya orang lain. Bukan dipercaya dalam hal menjaga rahasia, namun saat diberi kepercayaan dalam suatu tugas atau tanggungjawab. Contohnya dipercaya untuk mengerjakan laporan di kantor yang sebetulnya bukan menjadi tugas saya, tapi atasan saya percaya bahwa saya mampu, sehingga tugas tersebut dipercayakan kepada saya. Mungkin bagi orang lain, hal seperti itu dijadikan beban, tapi saya ambil sisi positifnya, saya mendapat kepercayaan untuk melakukan hal yang lebih, dan saya jadi mendapat pengetahuan baru. Saya juga beberapa waktu dipercayakan untuk menjadi “PIC” dalam suatu kegiatan atau organisasi. Walau tidak dapat dipungkiri terkadang saya mengambil keputusan untuk dapat dilihat atau alasan “eksistensi”. Tapi jadi kebangaan tersendiri karena bisa dikenal karena sesuatu yang baik dan berguna.

Dipercaya dan diakui karena hal baik tidak hanya jadi kebanggaan, tapi juga jadi motivasi untuk makin melakukan hal yang lebih baik. Ada yang menyatakan, lingkungan mempengaruhi bagaimana kita. Betul. Di mana lingkungan memberi dukungan yang baik, disitu juga kita tedorong sesuai apa yang kita dapat. Lingkungan yang di maksud adalah “lingkungan dimana dengan siapa kita bersosialisasi”. Setiap orang punya sifat dan ciri khas yang berbeda. Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang memperlakukan kita, tapi kita sendiri yang bisa menentukan bagaimana kita menghadapi lingkungan kita.

 


 

The Purpose of Life

      (Nice homework)      1. Apakah sampai hari ini Anda tetap memilih bidang pekerjaan yang saat ini dilakukan? Ataukah setelah merenung b...