Hotelier. Ya, masih tetap menjadi hotelier. Sebenarnya bukan sesuatu yang saya impikan menjadi hotelier. Awalnya, alasan saya mengambil jurusan Manajemen Perhotelan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena saya bingung, akan pilihan penjurusan IPA atau IPS saat saya akan memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), masa dimana masa depan akan dimulai. Dimana saya tidak menyukai pelajaran sejarah, ataupun ilmu pengetahuan alam. Terdengar seperti ingin lari dari pilihan yang ada, tapi tidak bisa berhenti karena ini menentukan masa depan saya.
Menyesal?
Tidak sama sekali. Saya malah merasa beruntung, dengan pilihan random saya untuk masuk sekolah perhotelan, saya mempelajari ilmu yang sangat berbeda dari apa yang saya pelajari sedari bangku Sekolah Dasar (SD). Belajar keramahtamahan, pelayanan. Bahkan setelah lulus SMK saya bisa langsung bekerja. Ya, karena sedari dulu saya memang mau langsung bekerja, dan kuliah seiring berjalan waktu menggunakan uang saya sendiri dan itupun terwujud, walau harus makan waktu lama untuk menyadari bahwa saya perlu kuliah. Seperti ada beberapa orang mengatakan, “kelamaan nyaman cari uang jadi lupa melanjutkan pendidikan” ya itu yang sempat terjadi pada saya. Tapi memang tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Tidak jauh dan
tidak bukan “Tetap Perhotelan”
Sebelum memutuskan
kuliah sambil bekerja, saya berpikir panjang, seberapa lelah kuliah yang
dijalani sambil bekerja, apakah saya bisa menyelesaikan kuliah sampai mendapat
gelar sarjana? Then honestly, cari aman, saya cari jurusan tidak jauh dari
bidang pekerjaan yaitu “Manajemen Perhotelan”. True. Apa yang dipelajari di
bangku kuliah adalah apa yang saya terapkan di lingkungan kerja sehari-hari.
Jika saya ambil jurusan lain, mungkin akan jauh berbeda apa yang saya pelajari dengan kehidupan sehari-hari saya. Dan jika dijalani kuliah sambil bekerja pasti otak saya lebih harus bekerja keras untuk mempelajari materi yang ada. Walau begitu, tetap banyak pelajaran baru yang saya terima selama kuliah.
Berpaling dari
dunia “Hotelier”
Rasa bosan pasti ada. Tapi dunia perhotelan luas, bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang jauh berbeda yang membuat pekerjaan lebih terasa bervariasi. Sempat ingin kerja kantoran supaya bisa libur sabtu-minggu dan tanggal merah, tapi bukan alasan yang kuat, karena saya bukan tipe orang yang suka diam di depan komputer dengan pekerjaan yang monoton. Pilihan saya, jika bisa keluar dari dunia perhotelan, bisa menjadi wirausaha. Mengelola usaha milik sendiri, tidak diatur orang lain, dan bisa lebih mengapresiasikan diri terhadap usaha milik sendiri.
2. Apakah sudah memahami apa tujuan Tuhan menciptakan kita ke muka bumi? Kemudian susunlah Visi hidup (life purpose), bidang ilmu/ pekerjaan yang diminati, dan peran yang ingin dikuasai?
Apapun yang
terjadi dalam hidup ini, saya yakin semua adalah campur tangan Tuhan. Semua adalah
rencana Tuhan. Walau kadang saya merasa salah menentukan pilihan atau gagal,
tapi pasti ada jalan keluar dan opsi lain yang terjadi nantinya.
Ilustrasi nyatanya,
sempat, akhir tahun 2019 lalu, saya berencana resign dari hotel tempat saya
bekerja sekarang. Hanya karena alasan sepele “sudah terlalu lama, bosan, ingin
cari suasana baru”. Setelah mencoba interview di beberapa perusahaan, saya
tidak memberikan dedikasi tinggi untuk bisa bekerja di perusahaan yang baru
akan saya tuju, entah kenapa, banyak pertimbangan. Sampai sempat nekat mau
resign padahal belum ada perusahaan baru yang akan saya tuju. Hanya karena
alasan, bosan, perlu liburan. Ya, itu alasan jujur yang saya ungkapkan pada
atasan saya saat itu. Seketika surat resign saya dirobek karena saya tidak
diijinkan untuk keluar dengan alasan seperti itu. Tidak lama sekitar awal tahun
2020 muncullah pandemi Covid 19, yang membuat banyak perusahaan tutup, perekonomian
berjalan sangat kacau.
GOD is just too GOOD!!
Saya merasa orang
yang diselamatkan. Penuh rasa syukur, merasa yang tadinya hidup terasa sulit
karena tidak bisa mendapat tempat kerja yang baru, ditolak resign,
bertanya-tanya apa sebenarnya yang Tuhan mau atas diri saya. Thank God for
letting me stay! Perusahaan saya bisa bertahan di tengah pandemi, tanpa tutup
dan melakukan pemotongan gaji karyawannya. Tidak bisa membayangkan jika saya
keluar dari tempat kerja, apakah saya akan mendapat perusahaan lebih baik, dan
bisa bertahan seperti perusahaan saya?
Saya memang tidak pernah tau apa yang Tuhan rencakanan. Terkadang manusia lebih banyak mengeluh, dan hanya sadar saat dirinya beruntung. Ya itu juga sering terjadi pada diri saya. Tapi kini saya belajar, harus punya rasa percaya penuh, bahwa apapun yang terjadi pada setiap manusia, merupakan bagian dari rencana Tuhan. Baik ataupun yang kita rasa tidak baik, namun Tuhan menyiapkan yang terbaik.
Optimis
Optimis bukan narsis. Lewat apa yang boleh diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup saya, saya optimis mampu jadi pribadi yang lebih baik, karena saya orang yang mau belajar dan mengamati. Jadi saya memiliki tujuan hidup saya kedepan:
- Visi : “Menjadi orang yang berguna dan berpengaruh yang berkepribadian sederhana, bijaksana dan mampu menghargai orang lain sehingga juga bisa dihargai”
- Bidang : hidup rumahtangga, keorganisasian, kepemimpinan
- Peran : good wife, good leader
3. Ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut?
Untuk memenuhi misi dengan berkepribadian tersebut sehingga dapat diterapkan guna menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi orang-orang di lingkungan sekitar, maka ilmu yang saya perlu terapkan yaitu:
- Hidup berumahtangga : kebiasaan selalu bersyukur, menghormati suami dan anggota keluarga, menjaga rasa kepercayaan dan kerukunan dengan seluruh anggota keluarga.
- Keorganisasian : berperan aktif dalam kegiatan, sosialiasi, menghargai pendapat, dan belajar bekerja dalam kelompok.
- Kepemimpinan : cara menjadi pemimpin yang mempengaruhi bukan hanya memerintah, menghormati dan menghargai keputusan orang lain.
4. Tetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan dalam menjalankan misi hidup Anda!
Dalam meraih
tujuan hidup, tidak selalu berjalan mulus, atau berjalan sesuai rencana. Namun,
dalam meraih tujuan pastinya kita memiliki rangkaian pijakan yang harus
diambil, agar tujuan bisa tercapai. Mimpi tidak selalu terwujud, tapi kita harus
memiliki mimpi.
