Melihat keadaan itu rasanya senang bisa menjadi kebahagiaan
juga bagi orang lain. Tapi terkadang dengan mirisnya pribadi ini nyeletuk “coba aja uangnya sebanyak mereka, pasti
bisa berbagi juga”. Padahal berbagi
nggak harus nunggu banyak uang dulu. Walau efek pandemi juga saya rasakan, saya
berusaha untuk bisa turun membantu juga mereka yang lebih membutuhkan, karena
masih banyak kondisi lebih nggak baik diluar sana.
Tapi nggak salah kalau mimpi mau hidup berkecukupan lebih
kan? Maunya supaya bisa lebih royal berbagi tanpa harus takut kita juga akan
kekurangan, padahal dengan berbagi nggak akan bikin kita kurang, malah akan
selalu ada gantinya.
PENTINGNYA HIDUP
BERKECUKUPAN?
Kalau lihat media sosial belakangan ini harus punya batin
kuat. Banyak drama, orang berlomba-lomba pamer harta benda, penghasilan, dll. Kalau
punya mental lemah pasti mikirnya sudah putus asa dan minder terus. Nggak bisa
selalu dibilang sombong, mungkin itu cara masing-masing orang menghargai kerja
keras mereka. Tapi yang lebih inspiratif, mereka yang diluar sana bisa
memberikan bantuan dari rejeki yang mereka miliki untuk orang lain yang
membutuhkan. Memang berbagi gak seharusnya selalu dilihat orang, tapi niatnya
mungkin memberi inpirasi juga untuk orang lainnya ikut bisa membantu satu sama
lain. Terkadang mengandai-andai punya rejeki lebih juga pengen banget, supaya
bisa ikut berbagi. Padahal berbagi nggak harus punya uang banyak dulu. Ya tapi
dimulai berbagi dalam skala kecil dulu. Rasanya habis berbagi tuh hidup kayak
tenang dan ikut seneng. Jadi berkecukupan bukan berarti jadi sultan, dan nggak cuma
memuaskan kepentingan pribadi, tapi bisa berguna juga untuk orang lain.
KALAU UDAH
BERKECUKUPAN, MANFAATNYA BUAT SIAPA?
Balik lagi, kalau dikasih rejeki sama Tuhan, apa yang kita
lakuin? Namanya kalau habis dikasih kan berarti ada terima kasih. Terima ya
berarti men
erima, lalu kasih ya berarti kita harus kasih lagi apa yang kita
terima. Saya jadi berpikir, pantas mereka yang berkecukupan akan selalu
sejahtera, karena apa yang mereka terima, mereka kasih lagi ke orang lain,
makanya nggak berkesudahan rejekinya. Jadi, sebisa mungkin setiap rejeki yang
kita terima, jangan takut untuk kasih lagi buat mereka yang juga butuh, rasa
bahagianya jadi nggak dinikmati sendiri tapi buat banyak orang lain juga.
KALAU BELUM
BERKECUKUPAN, KEKUATAN APA YANG BISA DIKERAHKAN? DAN BAGAIMANA UPAYA
MEWUJUDKANNYA?
Dalam hidup ada yang namanya rejeki, ada yang namanya
berkat. Yang selalu berbentuk materi itu namanya rejeki. Dan rejeki bisa datang
dari mana aja dan siapa aja. Kayak ada pepatah “rejeki nggak kemana-mana”. Tapi kalau berkat, udah pasti datangnya
dari Tuhan. Berkat nggak selalu dalam bentuk materi, tapi kesehatan,
keselamatan, kebahagiaan, orang-orang yang support di sekeliling kita, dan
masih banyak lagi. Contoh, selama pandemi berjalan, sampai saat ini Puji Tuhan
saya diberi kekuatan dan kesehatan, itu namanya berkat. Bersyukur luar biasa
dong. Jadi, walau efek pandemi ikut dirasakan juga, tapi masih harus inget,
kita masih terima berkat. Jadi harus tetap bersyukur. Kalau masih punya rejeki
walau sedikit, saya mau bisa menjadi berkat buat orang lain. Turut prihatin dan
peduli dengan menyisihkan sedikit demi sedikit rejeki yang ada, karena berbagi
nggak hanya dari kelimpahan. Dimulai dari yang sedikit lama-lama akan menjadi
bukit. Dimulai dari mencoba, lama-lama menjadi terbiasa.