Human design bisa dikatakan juga sebagai blue print dalam kehidupan manusia. Setiap individu memiliki mekanisme/cara kerja masing-masing dalam proses berinteraksi.
Human design dilihat dari
informasi tempat, tanggal, dan jam lahir kita secara spesifik. Ketika lahir ke
dunia, kita terekspose oleh medan energy yang ada di sekitar kita, medan energy
yang mengaktifasi program sifat-sifat yang ada dalam diri kita, maka dari itu
setiap orang memiliki sifat dan karakter berbeda karena lahir di tempat dan
waktu yang berbeda.
Human design memiliki 64 kode genetik
pada kepribadian manusia, namun tidak semuanya dimiliki oleh masing-masing
orang. Human design menunjukkan informasi tentang profile/peran seseorang di
tengah kehidupan, strategi di kehidupan, authority/cara pengambilan keputusan
pada seseorang, tujuan/tema kehidupan, cara makan, dll. Maka dari itu, human
design berguna agar kita mampu mempelajari diri sendiri, mengetahui titik
kekurangan dan kelebihan, kemampuan/potensi yang dimiliki, mengetahui
range/batasan yang kita miliki agar kita lebih mengenal diri lebih dalam. Dengan
mengenal diri sendiri lebih dalam, human design mampu membantu memudahkan kita
dalam pengambilan keputusan supaya sesuai dengan kepribadian yang kita miliki.
Chart yang ada pada human design
:
Tipe diri :
- - Manifestor
Populasi -+ 8%.
Kepribadian ini mempunyai energi murni sebagai sosok yang ditugaskan untuk
memulai sesuatu. Goals utama untuk mencapai kedamaian.
- - Generator
Populasi -+35%. Kepribadian
ini merupakan sosok yang bekerja dan membangun. Memiliki energi yang banyak/besar
untuk mensupport. Memfokuskan diri dalam pada satu bidang untuk hasil terbaik. Goals
utama mencapai kepuasan dari apa yang dikerjakan.
- - Manifesting generator
Populasi -+ 35% gabungan
dari manifesting dan generator. Memiliki kepribadian hampir sama dengan
generator, yang membedakan kepribadian ini tidak bisa monoton pada satu bidang,
melainkan harus mengerjakan lebih dari satu bidang/bervariasi. Energinya banyak
untuk melakukan hal yang disuka. Goals utama untuk mencapai kepuasan dari apa
yang dikerjakan.
- - Projector
Populasi -+21%. Kepribadian
yang memimpin, mengarahkan, dan mengelola. Energi yang dikeluarkan bersifat
atraktif/menarik sekitar untuk mencapai tujuan bersama. Goals mencapai kesuksesan,
baik dalam bentuk sukses pada tujuan/materi, dll.
- - Reflector
Populasi -+1%. Unsur
kepribadiannya bersifat open. Merefleksikan
setiap kondisi lingkungannya sehingga mereka menjadi cerminan pada situasi
sekitarnya. Sakralnya bersifat open. Kepribadiannya
untuk membaca lingkungan, bisa merasakan sensitivitas pada hal yang akan
berpengaruh terhadap dirinya.
Refleksi terhadap Diri Sendiri
Saya adalah
seorang generator. Seperti penjelasannya, seorang generator memiliki energi/kekuatan
yang membangun. Menjadi sosok yang bekerja, lebih pada menghasilkan suatu yang
nyata. Dalam pengambilan keputusan, saya suka mempertimbangkan orang lain, tapi
juga mendengarkan secara mendalam kemauan yang muncul dari dalam diri saya
sendiri. Tujuan utama yang dimiliki kepribadian saya adalah mencapai kepuasan. Sehingga
yang saya lakukan harus sesuai dengan ekspektasi saya.
Mimpi dan Tujuan Kuliah
Saat lulus meniti ilmu pada sekolah menengah kejuruan, saya tidak berkeinginan untuk kuliah, karena merasa kuliah hanya untuk mendapat title, dan title bukanlah segalanya. Untuk mendapat ilmu saya bisa mengikuti kursus atau mempelajari di internet dan sumber lainnya. Namun seiring berjalannya waktu saya sadar, title menjadi kualifikasi sebagian besar perusahan dalam proses rekruitmennya. Setelah menyadari, karena biaya kuliah yang dikenal tidak kecil, saya bertekad harus membayar uang kuliah dengan uang saya sendiri, sehingga saya memilih untuk bekerja terlebih dahulu. Ada pepatah, tunda kuliah keasikan kerja. Iya, betul saya pernah merasakannya. Sampai suatu saat saya memiliki pasangan yang memiliki gelar sarjana dan cukup pintar. Ya, saya adalah orang yang tidak suka tersaingi. Saya merasa minder memiliki pasangan yang lebih pintar. Juga dipengaruhi faktor lingkungan yang pokok bahasannya tidak jauh dari bangku kuliah. Disitu diri saya termotivasi untuk mengambil tekad melanjutkan kuliah saya. Lagipula memang kuliah akhirnya penting. Karena kualifikasi perusahaan dalam rekruitmen pegawainya adalah title.
Tidak selamanya
jabatan adalah hal yang dicari dari hasil kuliah dan memiliki title. Tidak hanya
untuk title, ya saya kuliah memang tujuannya belajar. Apalagi kuliah sambil
bekerja, dengan jurusan mata kuliah yang saya ambil sangat berhubungan dengan
pekerjaan yang saya jalani. Banyak hasil pembelajaran di bangku kuliah yang
saya terapkan juga di dunia kerja, dan sebaliknya. Banyak materi kuliah yang
saya ketahui karena sudah saya jalani di seharian lingkungan kerja saya. Ada pepatah
“tidak ada kata terlambat untuk belajar”.
Saya mulai lanjut kuliah di usia 23 tahun, maka dari itu saat ini berusaha untuk lulus tepat waktu bahkan dalam jangka waktu 3,5 tahun. Seperti hal biasa, tapi menurut saya merupakan kebanggaan kepada diri sendiri karena dijalankan sambil bekerja, bahkan berumahtangga. Di akhir semester 5 lalu saya memutuskan untuk menikah. Hal yang tidak terduga karena target saya tadinya mau menyelesaikan kuliah dulu, tapi dan rencana Tuhan ternyata berbeda.
Tujuan kuliah saya bukan karena orang lain. Orang-orang di sekitar saya hanyalah motivator. Tapi di balik itu, sebagai tuntutan kualifikasi perusahaan dalam menentukan pegawai, setelah lulus kuliah saya tidak selamanya bekerja untuk perusahaan orang, tapi saya ingin memiliki usaha sendiri. Dengan bekerja dan menghasilkan uang untuk ditabung, nantinya saya akan membangun suatu usaha. Usaha tidak harus perusahaan yang besar, seperti kata Bob Sadino “setinggi apapun pangkat yang anda miliki, tetap saja seorang pegawai. Sekecil apapun usaha yang anda miliki, maka anda adalah bosnya”.
Yang menjadi
motivasi saya dalam menjalankan usaha, karena saya mau bekerja dengan lebih
baik. Karena untuk usaha yang saya jalani sendiri tidak mungkin kerja dengan
asal-asalan. Saya sering melihat orang yang bekerja asal menerima gaji saja,
atau perilaku atasan yang tidak respect dengan bawahannya. Jika saya memiliki
suatu usaha, saya berharap mampu menjadi orang yang bertanggungjawab, tidak
hanya untuk keuntungan pribadi, namun menjadi berkat bagi setiap orang yang ada
di sekitar saya.
No comments:
Post a Comment